Jalan-jalan ke Wisata Kuliner Semawis Semarang

Semarang punya sebuah jalan yang ketika malam disulap menjadi semacam pasar malam. Namanya Semawis. Singkatan dari Semarang Kota Wisata. Di Semawis ada banyak sekali stan yang menjual aneka makanan, minuman, dan pernak-pernik seperti suvenir dan aksesoris fashion.

Tanggal 6 Mei lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke Semarang. Beberapa objek wisata saya kunjungi bersama para blogger lain yang diundang dalam acara Famtrip Blogger oleh Badan Promowi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS). Salah satunya tentu ke Semawis.

Nah di Semawis kami dijamu makan malam ala meja panjang. Konon di Semawis pernah diadakan jamuan makan malam meja panjang terpanjang di Indonesia dan mendapatkan rekor MURI. Meja panjang dimaksudkan untuk menghilangkan jarak antar pengunjung. Semua saling membaur, makan bersama dalam satu meja panjang.

Makanan yang sempat kami coba di Semawis adalah:

Bakcang Ayam. Jadi ini sejenis makanan yang terbuat dari beras ketan yang di dalamnya diisi dengan cacahan daging ayam yang telah dicampur dengan aneka rempah sehingga rasanya manis gurih lezat. Melihat namanya bakcang, memang aslinya isiannya daging babi. Tapi yang ini isiannya memang ayam, mengingat tidak semua peserta bisa makan babi

bakcang ayam semarang

Nasi Ayam Bu Pini. Konon ini dulunya jajanan khas kaum pinggiran di Semarang. Isinya sangat sederhana, hanya nasi dan suwiran ayam yang disiram kuah santan. Bu Pini awalnya jualan di trotoar. Makin lama makin laris, dan kini telah menjadi salah satu icon kuliner di Semarang.

nasi ayam bu pini

Tahu Gimbal. Nah kalau di Surabaya ini namanya tahu tek. Irisan lontong, yang ditumpangi dadar telor tahu dan disiram bumbu kacang. Rasanya tentu saja lezat!

tahu gimbal semarang

Es Puter Cong Lik. Jadi ini semacam eskrim yang dibuat dengan cara tradisional, namun kelembutannya tidak kalah dengan eskrim yang dibuat dengan proses modern. Disajikan dengan kelapa muda, menambah kesegaran malam itu.

es puter cong lik

Pisang Plenet. Nah ini salah satu camilan andalan di Semawis. Pisang yang dibakar lalu diplenet / dipenyet hingga tipis kemudian diberi aneka toping.

Apa boleh buat, sepanjang hari kami telah disuguhi dengan aneka kuliner. Maka di Semawis saya tidak mencoba menu selain yang disajikan oleh panitia.

Kedai E-Coffee

Nah bagi pecinta kopi, di dekat Semawis ini ada kedai kopi bernama E-Coffee. Tepatnya di Jalan Beteng No.41 Semarang. Pemiliknya Pak Moelyono Soesilo, seorang ahli kopi yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang kopi.

Menurut Pak Moelyono, E-Coffee tidak hanya dimaksudkan sebagai tempat untuk menikmati kopi yang enak, tapi juga menjadi tempat mengenal lebih jauh tentang kopi.

e coffee semarang

Di E-Coffee saya sempat belajar bagaimana menyeduh kopi tubruk yang benar. Menurut Pak Moelyono, setelah dipanggang / roasting, kopi sebaiknya disimpan dalam bentuk bijian. Ketika mau dibuat minuman, barulah kopi tersebut dihaluskan. Menghaluskannya bisa dengan grinder mesin maupun ditumbuk secara manual.

Nah, kopi yang telah dihaluskan tadi kemudian diambil sesuai selera dan dimasukkan gelas. Lalu dituangi air panas secara pelan-pelan hingga cukup untuk merendam serbuk kopi tadi. Tidak sampai penuh. Lalu gelas ditutup selama beberapa menit. Tujuannya supaya aroma kopinya tidak menguap, tapi larut ke dalam air.

Setelah beberapa menit, ketika aroma kopi sudah menyatu dengan air, barulah dibuka lagi dan ditambahi air panas lagi hingga kekentalan yang diinginkan. Jika suka kopi manis, barulah ditambah dengan gula sesuai selera. Jadi gula tidak dimasukkan di awal ya.

Pak Moelyono sempat membuatkan kami kopi tubruk atas request saya. Saya minum begitu saja tanpa tambahan gula. Dan ternyata rasanya memang beda!

4 Comments

  1. ndop 21/05/2016
    • budiono 22/05/2016
    • budiono 22/05/2016
  2. penye 28/05/2016

Leave a Reply