Sepi Ing Pamrih Rame Ing Blogging

Tema yang sangat unik. Sepi ing pamrih, rame ing blogging. Banyaklah ngeblog, tapi jangan terlalu mengharap pamrih. Sungguh cocok dengan kondisi kekinian para blogger, yang makin ke sini rasanya makin jarang blogger yang ngeblog demi konten yang baik. Yang banyak adalah blogger yang menulis demi sesuap nasi melalui artikel pesanan para sponsor. Akibatnya tulisan yang ditulis tidak lagi natural, sebagaimana ciri khas jurnalisme warga (citizen journalism)

Tidak dipungkiri, banyak blogger, termasuk saya, saat ini malah berlaku sebaliknya, yaitu: rame ing pamrih sepi ing blogging. Jarang ngeblog. Sekalinya ngeblog hanya menulis artikel pesanan sponsor. Sungguh berbeda dengan awal kemunculan dan naiknya trend blogging di Indonesia sekitar tahun 2008 hingga 2010 dulu. Waktu itu muncul banyak komunitas blogger dengan semangat untuk mengangkat potensi daerahnya masing-masing.

Maka ketika mendapat undangan kopdar blogger dengan tema “sepi ing pamrih, rame ing blogging” dari Pakde Blontank, saya langsung mengiyakan. Apalagi dengan ancaman serius: gak akan disapa seterusnya oleh blogger sepuh asal Solo itu jika tidak hadir. Sebelumnya Pakde memang beberapa kali mengajak saya ke berbagai acara, namun selalu tempuk dengan agenda lain sehingga belum bisa menghadiri. Ampun Pakde, kali ini saya pasti datang!

sepi ing pamrih rame ing blogging

Gambar di atas ini tercetak di kaos yang dibagikan secara gratis. Itu adalah alamat blog milik para blogger yang hadir (beberapa batal hadir meski kadung ditulis). Memang ada sponsor, tapi benar-benar kalem. Cukup dikasih logo kecil di pojok kanan bawah, dan tidak diberi kesempatan mempromosikan produknya melalui media apapun selain ini.

Selamat Datang di Solo

Saya berangkat ke Solo pada hari Jumat, 25 Maret 2016 naik Kereta Api Logawa kelas ekonomi. Waktu itu bertepatan dengan long weekend, semua tiket KA sudah ludes. Itu saja untung-untungan setelah mengecek beberapa kali akhirnya ada yang kosong 1. Langsung saya order dan bayar secara online. KA Logawa mulai meluncur dari Stasiun Gubeng sekitar pukul 09.45, dan sampai di Stasiun Purwosari Solo sekitar pukul 14.00

Turun dari KA saya sempat makan siang di seberang stasiun. Beli serabi Solo 10 ribu lalu mampir ke warung mie ayam di dekatnya. Setelah makan, saya yang rencananya mau jalan kaki ke RBI akhirnya naik becak. Selain cuaca siang itu sungguh panas, juga kasihan setelah melihat tukang becak sepuh menawarkan jasanya. Jarak dari Stasiun Purwosari ke RBI hanya 1,7 kilometer.

Saya tiba di RBI sekitar pukul 3 sore. Di sana sudah ada 3 orang blogger asal Jakarta yang datang pertama kali. Saya langsung berkenalan dan membaur. Tidak lama kemudian datang blogger-blogger dari daerah lain.

Oia, sore itu di RBI saya sempat makan Sate Kere, yang konon merupakan sate khas kalangan bawah di Solo sana. Sejatinya ini adalah sate yang terbuat dari jerohan sapi dan dikombinasikan dengan tembe gembus. Enak kok. Harganya lumayan juga. Bukan sate kere ini!

Malamnya RBI makin ramai ketika para blogger dari berbagai daerah terus berdatangan. Salah satu yang saya tunggu-tunggu adalah Mbah Sangkil, blogger senior penuh ilmu yang selalu merendah dan bergaya sangat sederhana itu. Kangen sudah lama tidak berjumpa sejak dia pindah ke Jogja.

Dulu ketika di Surabaya hampir setiap hari kami berdebat tentang apa saja. Mulai hal penting hingga yang remeh temeh. Mbah Sangkil ini kalau debat prinsipnya yang penting beda pendapat. Tapi dengan demikian justru membawa suasana debat menjadi kaya akan wawasan baru. Wahahahaa..

Malam itu beberapa blogger nampak diskusi ngalor ngidul hingga pagi, membahas berbagai hal mulai yang ringan sampai yang berat. Misalnya bagaimana ciri cewek yang bisa diajak tidur, lalu bagaimana orang-orang dengan kemampuan khusus bisa berkomunikasi dengan binatang, hingga masalah bangsa yang sangat pelik dan bagaimana solusinya. Bahasan tentang buku-buku berbobot juga tidak luput dari diskusi malam itu.

Konon diskusi seperti itu sudah menjadi keseharian di RBI dan membuat orang yang pernah berkunjung ke sini selalu kangen untuk datang kembali. Kalau saya, terus terang dengan aneka camilan yang dijajakan di wedangan (warung kopi) yang ada di teras RBI.

rumah blogger indonesia

Esok harinya Hari Sabtu tanggal 26 Maret 2016 saya awali dengan sarapan Sego Liwet di pinggir jalan Adisucipto bersama Ndop. Blogger kenamaan asal Nganjuk ini datang malam jelang dini hari bersama rombongan dari Surabaya dan Madura naik bus. Mereka ini sebenarnya janjian, tapi ternyata Ndop salah naik bus. Wahaha..

Untuk menuju ke warung nasi liwet trotoar ini, kami jalan kaki cukup jauh dari RBI, tapi tidak masalah karena sekalian olahraga dan mau beli pasta gigi. Selesai sarapan kami kembali jalan kaki ke RBI. Sampai RBI perut saya sudah lapar lagi. Untung Pakde Blontank segera datang membawa aneka jajanan pasar khas Solo.

Wah, suasana RBI pagi itu sudah sangat ramai. Makin banyak blogger yang datang. Sido kopdar tenan iki!

Perjalanan ke Lokasi Kopdar

Siang sedikit sekitar pukul 11.00 kami diberangkatkan ke Villa Segoro Gunung menggunakan beberapa mobil. Ada juga yang naik angkutan umum karena peserta yang datang melebihi ekspektasi panitia sehingga mobilnya tidak cukup. Sementara itu rombongan sedulur saya dari Ponorogo, Jidat, PardiDafhy dan satu lagi lupa siapa, berangkat pagi itu juga dari Ponorogo langsung menuju lokasi naik Panther Cap YouTube milik Jidat 🙂

perjalanan kopdar blogger

Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk makan siang di Bale Branti. Ini adalah semacam restoran yang dikelola oleh BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) setempat. Bapak Kepala Desa Kemuning bahkan sempat menemui kami dan ngobrol tentang potensi desa yang sebagian besar wilayahnya merupakan kebon teh.

Diceritakan oleh Pak Kades bahwa Bale Branti ini dimodali oleh penduduk setempat yang sudah sukses mengembangkan bisnis di Jakarta. Lahan yang dipakai adalah tanah kas desa. Bale Branti mempekerjakan penduduk desa setempat sebagai karyawan. Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 50-an orang dan bisa lebih jika musim liburan tiba.

desa kemuning

Dari Bale Branti kami lanjut perjalanan ke Villa Segoro Gunung milik kawan Pakde Blontank. Jaraknya tidak jauh, mungkin hanya 5 kilometer. Namun jalannya menanjak dan berkelok. Sungguh rute perjalanan yang indah karena kanan kirinya penuh pepohonan hijau, sekaligus menegangkan.

Kami tiba di lokasi Villa Segoro Gunung sekitar pukul 4 sore. Tanpa dikomando, para blogger langsung mengeksplore villa yang sungguh indah nan nyaman itu sambil menunggu kawan yang lain. Saya tertarik dengan sistem tanam terasiring yang ada di bawah villa.

Kopdar Sebenar-benarnya!

Ketika Pakde membuka wacana akan bikin kopdar blogger itu saya sudah mewanti-wanti jangan sampai kopdarnya diisi dengan seminar berbagai topik yang membosankan. Jangan sampai pula kopdarnya menjadi ajang promosi produk sponsor. Boleh ada sponsor, karena bikin kopdar memang butuh biaya, tapi kalem saja, gak usah pasang spanduk sepanjang jalan.

Apresiasi tinggi saya berikan untuk Pakde Blontank dan kawan-kawan Rumah Blogger Indonesia (RBI) yang berhasil mewujudkan kopdar berkualitas yang digelar 26 dan 27 Maret 2016 lalu di Villa Segoro Gunung, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.

kopdar blogger rudiantara

Menurut saya inilah kopdar yang sebenar-benarnya. Para peserta yang hadir dari berbagai daerah bisa membaur dalam suasana yang guyub rukun penuh kekeluargaan. Villa Segoro Gunung yang sangat sejuk dan nyaman itu menjadi saksi bisu, betapa kami para blogger benar-benar kopdar, kopi darat.

Temu muka, ngobrol santai dengan berbagai tema yang tidak ditentukan, bersama blogger-blogger yang memiliki ketertarikan dan keahlian beragam. Bahkan kami juga ngobrol dengan perangkat desa setempat. Hidangan yang disuguhkan juga hidangan khas desa setempat. Benar-benar down to earth. Membumi. Apalagi di lokasi acara tidak ada sinyal seluler sama sekali. Wah komplit. Para blogger dengan sukarela membaur tanpa disibukkan dengan gadget masing-masing.

kopdar blogger rudiantara

Dan yang terasa istimewa yaitu kehadiran Menteri Komunikasi dan Informatika, Chief Rudiantara. Pak Menteri-pun bisa membaur dengan blogger dan ngobrol santai hingga larut malam. Meskipun ada sedikit presentasi tentang masa depan dunia cyber di Indonesia, suasana sama sekali tidak membosankan karena forumnya sangat santai. Para blogger menyimak sambil lesehan, bukan duduk di kursi-kursi ala seminar.

Diantara yang menjadi bahasan Pak Menteri adalah soal kondisi cyber Indonesia dibandingkan negara-negara lain dan bagaimana Indonesia dapat mengejar ketertinggalan. Disebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia lebih banyak aktifitas download ketimbang upload menandakan bahwa masyarakat kita lebih banyak yang menjadi user ketimbang content provider. Juga makin maraknya konten negatif di internet yang sebenarnya kurang efektif jika dilawan dengan sensor. Para blogger mengamini, bahwa mestinya konten negatif dilawan dengan konten positif, bukan dengan pemblokiran!

Para blogger-pun bebas mengajukan pertanyaan, kemudian dijawab oleh Pak Menteri, dan boleh disanggah atau ditambahi oleh yang bertanya. Pak Menteri juga terbuka menerima masukan-masukan dari para blogger terkait tata kelola internet di Indonesia.

Dalam diskusi selama 3 jam itu saya memilih mendengarkan saja. Besok paginya saya baru menyampaikan gagasan secara langsung kepada Chief Rudiantara, tentang bagaimana cara yang efektif untuk melawan konten negatif yang makin memenuhi jagad internet. Beberapa ide saya lontarkan kepada Pak Menteri dan nampaknya beliau sangat tertarik dengan ide yang saya berikan.

Setelah sarapan nasi pecel, kami melanjutkan diskusi ringan di halaman villa tentang dunia blogging yang mulai redup. Pakde Blontank mengusulkan pemberian award / penghargaan kepada para blogger yang aktif menulis. Idenya seperti yang pernah dilakukan oleh Internet Sehat beberapa tahun belakangan. Blogger lain mengamini, setuju. Sebagai langkah awal, dipilihlah beberapa orang untuk menjadi komite.

Diskusi kemudian disambung dengan cerita dari Jaka Balloeng, seniman difabel yang memiliki keahlian menggambar ilustrasi menggunakan software Ms. Word. Saking jagonya, Joko Baloeng mendapatkan proyek menggambar ilustrasi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk buku-buku Sekolah Dasar.

Setelah diskusi selesai, kami lanjut dengan ngobrol-ngobrol santai di mana saja dan dengan siapa saja kami mau sambil nunggu waktu makan siang. Ada yang foto-foto, ada juga yang genjrengan seperti Jidat dan Kika Syafii bersama beberapa kawan yang lain.

 

Kodar kali ini sungguh berkesan bagi saya dan blogger yang lain. Terlihat dari suasana tulisan kawan-kawan blogger setelah mengikuti kopdar ini. Inilah kopdar blogger yang sebenarnya, dimana para blogger bisa membaur tanpa sibuk menerika cekokan materi dan tawaran produk sponsor. Juga tidak sibuk dengan gadget masing-masing karena memang gak ada sinyal hihi..

Tapi apa boleh buat, kami harus kembali ke rumah masing-masing ketika matahari sudah mulai tergelincir ke barat pada hari Minggu 27 Maret 2016 itu. Kamipun kembali turun ke Solo, menaiki kendaraan yang disediakan panitia. Pak Menteri juga sudah pulang paginya sekitar pukul 08.00 karena mengejar jadwal pesawat.

persiapan pulang kopdar blogger

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada Pakde Blontank atas segala upayanya demi kesuksesan acara ini. Juga untuk kawan-kawan RBI yang telah menjadi panitia. Terimakasih juga kepada saudara-saudaraku blogger yang hadir. Sampai jumpa pada kopdar berikutnya!

Kembali ke Surabaya

Dengan menumpang elf yang disediakan panitia, kami tiba di RBI sekitar pukul 4 sore. Beberapa kawan dari Surabaya dan Madura turun lebih dulu di Terminal Tirtonadi Solo untuk langsung pulang naik bus. Saya masih harus menunggu jadwal Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan, sekitar jam 8 malam.

Demikian juga dengan Mbah Sangkil yang tidak kunjung mendapatkan kendaraan untuk kembali ke Semarang. Sementara itu kawan-kawan dari Malang menunggu jemputan travel jam 8 malam. Oia, Yaniko dari Malang ini sungguh lucu. Bagaimana tidak, dia membawa drone, tapi lupa membawa baling-balingnya. Walhasil rencananya menyuting acara kopdar dari ketinggian menggunakan drone gagal sudah. Hihi..

Oia, sebenarnya sesampai di Solo saya ingin beli oleh-oleh untuk istri dan anak. Mungkin beli batik Solo. Tapi setelah acara kopdar itu semua sudah kelelahan. Lagipula waktunya cukup mepet. Akhirnya tidak jadi beli oleh-oleh.

Pukul 19.30 saya meninggalkan RBI menuju Stasiun Purwosari Solo. Awalnya mau jalan kaki sambil nyari angkringan. Tapi lumayan juga jalan kaki sambil membawa tas yang cukup berat. Akhirnya di tengah perjalanan saya putuskan naik becak. Sebenarnya beberapa kali ada taksi menawarkan diri, tapi saya pilih becak karena sepertinya mereka lebih butuh duit ketimbang taksi 🙂

angkringan solo

Sampai Stasiun Purwosari sekitar jam 8 malam, masih ada waktu untuk makan. Maka saya bergegas mencari warung angkringan di depan stasiun. Makan nasi kucing dan aneka camilan.

Selesai makan, saya masuk ke ruang tunggu stasiun. Ternyata Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan mengalami keterlambatan sekitar 30 menit. Pukul 9 malam kereta baru datang, dan sayapun lekas naik.

Hari Senin 28 Maret 2016 pukul 2 dini hari saya tiba di Stasiun Gubeng Surabaya dan langsung pulang ke rumah diantar kendaraan dari Uber. Alhamdulillah, berangkat dan pulang dengan selamat.

Sampai jumpa di kopdar blogger berikutnya!

9 Comments

  1. Pardicukup 05/04/2016
    • budiono 06/04/2016
  2. ndop 05/04/2016
    • budiono 06/04/2016
  3. kholis 07/04/2016
  4. Vicky Laurentina 07/04/2016
  5. Faishol 10/04/2016
  6. zata 11/04/2016
  7. denny 09/05/2016

Leave a Reply