Pengalaman Memanfaatkan BPJS di IGD

Halo guys, gimana kabar? Semoga semua sehat-sehat saja ya. Sakit itu tidak enak. Maka ketika kita sehat, mari bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat sehat ini. Jangan hanya pas sakit saja berdoanya.

Bicara tentang sakit, waduh malam Jumat kemarin saya kembali harus mendatanagi rumah sakit. Masih ingat dulu saya pernah cerita di sini, di sini dan di sini bahwa saya mengalami nyeri perut yang hebat. Sampai keringat dingin. Nah malam Jumat itu saya kembali nyeri perut ūüôĀ

Sebenarnya nyerinya sudah saya rasakan sejak Jumat sore tanggal 5 Februari 2016. Waktu itu saya habis makan sambel yang sangat pedes. Sorenya perut mulai terasa tidak enak. Tapi rasanya timbul tenggelam, jadi tidak begitu saya perhatikan.

Hingga pada hari Kamis tanggal 11 Februari 2016 itu nyerinya makin menjadi. Jam 11 siang saya menghadiri Kopdar Suara Surabaya Community di Sidoarjo. Waktu itu sudah terasa nyeri.

Selesai pukul 14.00 dan saya sempatkan mampir ke rumah kawan di Kahuripan Nirwana karena kadung janji mau mampir. Ternyata si kawan juga sedang tidak enak badan sehingga saya hanya mampir 5 menit lalu pamit.

Ketika di perjalanan, saya nyetir sendiri, di tol Sidoarjo arah Surabaya nyerinya makin terasa. Saya nyetir dalam kondisi berisiko tinggi karena sambil menahan nyeri yang juga berakibat terkurasnya energi sehingga membuat saya mengantuk.

Saya kuat-kuatkan. Saya coba fokus. Akhirnya setelah kena macet di tol karena ada kecelakaan, dan macet di beberapa titik di dalam kota Surabaya, pukul 16.30 saya sampai rumah juga.

Ke IGD RS Universitas Airlangga

Habis maghrib saya buru-buru pergi ke RS Unair. Nyetir sendiri. Mau gimana lagi, karena saya hanya tinggal berdua dengan istri. Sementara istri harus menjaga 2 anak yang masih kecil-kecil. Mau naik taksi malah kelamaan nunggunya. Yasudah berangkat sendiri. Sampai di IGD RS Unair langsung daftar di loket.

Petugas merasa heran kok ada orang sakit berangkat sendiri. Setelah ngisi form pendaftaran, diperiksa di ruang pemeriksaan oleh dokter Christoporous Aditya Pawitan. Saya tahu nama ini dari lembar rekap pemeriksaan yang saya terima.

Kepada dokter saya ceritakan gejala yang saya rasakan. Yaitu nyeri hebat di perut sebelah kiri pusar. Dokter menekan di beberapa titik dan menanyakan sakit atau tidak. Juga memeriksa dengan stetoskop. Perawat memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh. Terakhir, dokter bertanya, ada mualnya atau tidak. Saya jawab ada mualnya.

Berdasarkan pemeriksaan dan apa yang saya ceritakan, dokter berkesimpulan bahwa permasalahan bersumber dari asam lambung yang tinggi. Saya bilang dulu pernah mengalami begini, dan disuntik ketorolac langsung sembuh nyerinya. Namun dokter menjawab bahwa untuk kasus seperti ini, bukan ketorolac solusinya. Saya bilang terserah mau dikasih apa yang penting nyerinya SEGERA hilang.

Perawat kemudian menyuntikkan sesuatu melalui pembuluh darah yang ada di balik telapak tangan. Sebelum disuntik, saya diminta mengisi lembar persetujuan untuk diambil tindakan medis (inform consent). . Kemudian saya dipersilakan pulang. Namun saya tidak mau pulang dulu karena ingin menunggu sampai reda. Saya tunggu sambil berbaring di ruang pemeriksaan.

Menunggu lebih dari 30 menit kok tidak ada perubahan sama sekali. Lalu saya kembali ke loket pendaftaran. Dokternya masih di sana beserta seorang Dokter Muda. Saya tanya, kok gak berkurang sama sekali nyerinya. Dijawab oleh si DM bahwa tentu butuh proses untuk sembuh, lebih baik pulang dan dipakai tidur supaya nyerinya hilang. “Lho, bagaimana bisa tidur, wong nyeri banget mbak!” Gitu batin saya.

Si dokter membenarkan, lebih baik segera pulang, meminum obat yang sudah diresepkan supaya lekas sembuh. Saya tidak mau pulang karena masih sangat nyeri. Saya kembali ke ruang pemeriksaan lalu berbaring.

Tidak lama kemudian ada perawat masuk, memberikan obat. Saya tanya, ada air atau tidak, dijawab tidak ada dan saya disarankan mengunyah obat tadi karena rasanya tidak pahit. Saya tanya ini obat apa, dijawab obat maag kunyah. Oke, saya makan 2 tablet sekaligus sesuai saran si mbak perawat. Lalu berbaring lagi.

Oia, sempat saya tanyakan juga tadi saya disuntik obat apa. Si mbak perawat kemudian keluar sebentar dan kembali lagi, meberitahukan bahwa saya disuntik omeprazole. Saya Googling, apa itu omeprazole. Ternyata itu obat untuk menekan asam lambung. Pantesan nyerinya tidak segera hilang. Sebenarnya saya berharap dikasih obat pereda nyeri (painkiller) supaya nyerinya lekas hilang. Barulah diberi obat lain untuk menyembuhkan penyebabnya. Hoho…

Dalam hati saya kecewa. Yasudah, saya tidak mau ribut. Toh dokter sudah mengambil tindakan sesuai dengan apa yang diyakininya benar. Saya putuskan untuk pulang dengan kondisi rasa nyeri yang sama sekali tidak berkurang. Sebelum pulang, saya masih harus membayar totalnya Rp. 214.623 dan berjalan ke depo farmasi yang jaraknya cukup jauh untuk mengambil obat sendiri.

Sebenarnya saya punya kartu BPJS. Tapi si dokter ketika memeriksa saya sudah menjelaskan bahwa dengan kondisi seperti ini, dimana tidak ditemukan tanda-tanda kegawatan yang butuh penanganan segera, maka kartu BPJS tidak bisa digunakan. Oke tidak masalah lah. Saya katakan buat saya biaya tidak masalah, yang penting SEGERA sembuh.

Lanjut ke IGD RS Haji

Sebenarnya kalau mau ke RS Haji malah lebih dekat dari rumah saya. Dulu-dulu juga ke RS Haji. Namun malam itu saya disarankan istri ke RS Unair yang katanya lebih ramah pelayanannya. Memang betul, dokter dan perawatnya ramah. Namun nyeri saya tidak sembuh. Maka setelah dari RS Unair dan tidak sembuh itu, saya putuskan untuk langsung ke RS Haji.

Jarak RS Unair ke RS Haji mungkin hanya 1 kilometer, searah dengan arah pulang ke rumah. Sesampai di RS Haji sekitar pukul 11 malam. Langsung mendaftar di loket IGD dengan menyebutkan nama dan alamat rumah. Karena dulu pernah mengisi data, maka data saya sudah tersimpan di sana.

Oleh petugas loket saya ditanya, punya kartu BPJS atau tidak. Saya jawab punya. Lalu beliau bilang disimpan aja kartunya, nanti setelah selesai pemeriksaan ditunjukkan ke dokternya.

Oke, saya langsung masuk ke ruang IGD dan disambut oleh dokter R Sufyan Humaidy. Saya dipersilakan berbaring di ruang pemeriksaan dan kemudian diperiksa dengan stetoskop, dipencet-pencet perut saya dan ditanya di mana letak nyerinya. Saya ceritakan bahwa perut saya sangat nyeri. Dulu sudah pernah. Dan ini kambuh lagi. Tadi sudah ke RS Unair disuntik omeprazole dan tidak hilang nyerinya.

Perawat kemudian mengecek tekanan darah dan suhu tubuh saya. Tidak lama kemudian saya dipanggil dokter dan dipersilakan beli obat untuk disuntikkan ke apotek di bagian depan IGD.  Total habis 17 ribuan. Saya lihat obatnya, ketorolac. Ini sama seperti yang disuntikkan dulu ketika saya mengalami nyeri perut. Perawat menyuntikkan ketorolac itu melalui vena yang ada di balik telapak tangan. Di dekat bekas suntikan dari RS Unair tadi. ketorolac Oia, sebelum disuntik obat, mas perawat yang saya tidak sempat tanya namanya itu, mengambil sampel darah untuk pemeriksaan lab. Barulah disuntik ketorolac. Setelah disuntik saya dipersilakan istirahat.

Tidak lama kemudian, saya diminta menampung urin di wadah yang diberikan. Rupanya akan dilakukan pemeriksaan darah dan urin karena dokter curiga jangan-jangana da yang tidak beres di saluran urin saya. Di dalam IGD RS Haji itu ada toiletnya. Saya menampung urin saya di sana.

Lalu saya berikan ke mas perawat tadi. Sampel darah dan urin saya dikirim ke lab RS Haji melalui cerobong hisap otomatis yang berada di belakang kursi dokter. Begitu ditaruh di sana, sampel tadi langsung terhisap berjalan sendiri ke atas. Lalu saya dipersilakan istirahat lagi di ruang pemeriksaan.

Sementara itu dokternya sibuk melayani pasien lain. Malam itu memang ada banyak pasien. Ada mbak-mbak yang asma dikasih oksigen sambil ditunggui bapaknya, ada¬†mbak-mbak¬†yang nyeri perutnya sampai menangis lalu disayang-sayang sama pacarnya yang masih sama-sama mahasiswa (terlihat dari jaket ITS-nya). Dan beberapa pasien lain yang semuanya didampingi pendamping. Saya saja yang datang sendirian hehe…

Sekitar 1 jam setelah disuntik tadi, nyeri saya sudah hilang. Saya kemudian didatangi mas perawat, ditanyai bagaimana kondisi saya sudah enak atau belum, saya jawab sudah enak, lalu dipersilakan ke meja dokter. Dokter Sufyan kemudian menunjukkan hasil pemeriksaan lab. Intinya dari hasil tadi semua masih baik sesuai parameter acuan yang ada. Namun ada angka yang sedikit menyimpang. Kalau ada inveksi, kemungkinan masih ringan.

Lalu dokter menuliskan resep dan bertanya, punya kartu BPJS atau tidak. Saya jawab punya lalu saya tunjukkan. Dokter mempersilakan saya ke loket pendaftaran dan menunjukkan kartu BPJS saya. Di loket, saya diberi formulir rujukan BPJS untuk diserahkan ke dokternya. Saya serahkan ke dokter.

Sambil menulis resep, dokter menjalaskan lagi bahwa meskipun hasil lab sepertinya baik-baik saja, lebih baik periksa ke Poli Urologi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sehingga ketika ditemukan ketidakberesan maka bisa segera ditangani. Saya disarankan ke Puskesmas Keputih dulu sebagai Fasilitas Kesehatan Pertama dalam keanggotaan BPJS saya, untuk meminta rujukan ke Poli Urologi RS Haji.

Oke, resep selesai ditulis, dokter menyerahkan lembar resep, hasil lab dan rujukan BPJS tadi  ke saya dan saya dipersilakan mengambil obat di apotek. Saya ucapkan terimakasih ke dokter Sufyan dan perawat yang telah melayani saya dengan sangat baik, ramah, cekatan dan komunikatif. Terimakasih dokter Sufyan.

Saya ambil obat ke apotek yang berada di dekat loket IGD RS Haji dengan menyerahkan resep dan rujukan BPJS tadi. Setelah diberi obat dan dijelaskan waktu minumnya, saya pulang dengan riang gembira. Bagaimana tidak riang gembira, nyeri saya sudah sembuh dan merasa puas dengan pelayanan dokter dan perawatnya. Gratis pula berkat kartu BPJS. Terimakasih BPJS Kesehatan.

Penutup

Demikian tadi pengalaman saya menggunakan kartu BPJS Kesehatan untuk berobat ke IGD RS Haji Surabaya. Ternyata yang diisukan oleh beberapa orang bahwa jika pasien BPJS itu dilayani sekenanya, itu tidak terjadi pada saya. Saya dilayani dengan baik oleh dokter dan perawat yang ramah. Petugas loket IGD RS Haji juga ramah. Petugas di apotek juga ramah.

Akhirnya, meskipun berobat pakai kartu BPJS itu gratis, saya berdoa semoga tidak akan menggunakannya lagi untuk berobat ke RS. Artinya, saya ingin sehat-sehat saja sehingga tidak perlu datang ke RS.

Sekian sharing pengalaman saya. Jika kamu punya pengalaman lain, silakan ditulis di kolom komentar. Terimakasih ūüôā

Leave a Reply