Home Office @ Marina Emas Selatan E-59

home officeSesuai dengan judul, sekarang saya berkantor di rumah. Sejak dulu juga bekerja di rumah sih, tetapi terhitung sejak bulan Oktober ini (setelah menikah) saya pindah alamat. Sebelumnya di Gebang Lor 99, sekarang di Marina Emas Selatan E-59. Satu-satunya pertimbangan memilih lokasi ini adalah supaya dekat dengan tempat kerja istri.

Karena berkantor di rumah, maka saya sering ada di rumah. Hanya sesekali saja pergi ke kampus untuk urusan thesis, atau berkunjung ke kantor yang lain jika di sana ada sesuatu yang penting untuk didiskusikan secara langsung dengan tim. Sedangkan istri saya bekerja di Puskesmas Keputih, tidak jauh dari rumah, hanya 300 meter dan bisa ditempuh dalam waktu tidak sampai 5 menit.

Karena pekerjaan saya kebanyakan berkaitan dengan dunia online, maka saya tidak butuh ruangan kantor yang penuh dengan peralatan kantor. Apalagi kebanyakan klien saya juga melek IT sehingga biasanya kami bertransaksi secara online tanpa harus bertemu langsung. Oleh karena itu kantor saya cukup sebuah meja yang di atasnya saya bisa meletakkan laptop yang terkoneksi ke internet.

Dulu saya pernah bekerja di perusahaan formal. Jam kantornya pasti, yaitu jam 8 pagi hingga 4 sore. Untuk menuju ke kantor yang terletak di Gedung Graha Pena itu saya harus berangkat jam 7 supaya bisa tiba di kantor beberapa menit sebelum jam 8. Lalu jam 8 sampai jam 4 bekerja dalam posisi duduk terus-menerus di dalam kantor. Eh, sering ke toilet juga sih, soalnya ruangan kantor saya dingin banget, AC-nya gak bisa disetel sendiri karena pake AC central, jadinya sering kebelet pipis hehe..

Meskipun jam 4 sudah bisa pulang, tetapi biasanya saya memilih pulang sehabis sholat maghrib. Alasannya, langsung pulang jam 4 atau pulang sehabis maghrib, nyampai rumahnya sama, yaitu jam 7, makanya saya memilih pulang sehabis maghrib saja. Sambil menunggu surutnya kemacetan di sepanjang jalan pulang, bisa nyantai-nyantai dulu di kantor, minum teh, becanda dengan teman-teman sambil internetan.

Dua tahun bekerja dengan ritme seperti itu saya bosan dan semakin yakin bahwa saya bukanlah tipe pekerja kantoran. Lagi, saya tidak suka diperintah-perintah oleh atasan. Saya lebih suka melakukan pekerjaan atas inisiatif saya sendiri. Maka saya semakin mantab memilih menjadi entrepreneur. Β Bisa bekerja di mana saja, bebas memilih waktunya dan bisa mendapatkan penghasilan tanpa batas.Β Lagipula ketika melamar dulu niat saya adalah untuk belajar manajemen perusahaan profesional, dan itu sudah saya dapatkan semua.

Menjadi entrepreneur selain ada banyak kelebihannya, juga ada kekurangannya. Misalnya ketika hendak melamar anak orang. Seperti kita tahu bahwa mindset kebanyakan orang Indonesia ini menganggap keren orang yang bekerja kantoran atau menjadi pegawai negeri. Saya pernah mengalami sendiri ditolak oleh orang tua calon istri saya waktu itu. Ibunya seorang guru, anaknya yang ingin saya nikahi itu juga guru. Ibunya mati-matian menolak saya karena menginginkan menantu pegawai negeri. Wahahaha…

Mendapat penolakan seperti itu tentu saja saya tersinggung, apalagi penolakannya disertai omongan tidak mengenakkan. “Masa depannya seperi apa nanti kalo hanya jadi pengusaha, apa ya bisa membahagiakan anak saya, sudah biar cari calon suami pegawai negeri saja, lebih jelas masa depannya, lebih jelas gajinya!”. Berbagai cara sudah saya tunjukkan namun penolakan tetap terjadi, akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan hubungan itu. Saya yakin suatu saat saya akan bertemu jodoh yang dia dan orangtuanya bisa mengerti pilihan hidup saya ini.

Alhamdulillah saya dipertemukan dengan istri saya ini. Selain cantik, manis, pintar, cerdas dan sabar, dia juga bisa mengerti bahwa saya tidak suka bekerja kantoran. Sejak awal saya sudah katakan padanya bahwa saya telah menetapkan pilihan sebagai entrepreneur dengan resiko pendapatan yang fluktuatif. Alhamdulillah dia bisa mengerti.Β “Bekerja apa saja yang penting halal dan barokah, Mas..”. Alhamdulillah juga Ayah Ibu mertua juga memahami pilihan saya. “Santai aja, Mas, rejeki sudah ada yang ngatur, yang penting niatnya baik, silakan nikahi anak saya!”.

Dan kami akhirnya menikah pada tanggal 16 September 2011 di rumah keluarga istri di Pasuruan, dilanjutkan dengan resepsi pada esok harinya di Auditorium P3GI, ditutup dengan ngunduh mantu pada tanggal 22 September 2011 di rumah keluarga saya di Ponorogo.

Dimulai dari Home Office @ Marina Emas Selatan Β E-59 ini saya hendak menjemput rejeki dari Alloh untuk menafkahi istri dan anak-anak kami kelak serta mencari bekal ke akhirat. Bismillah.. Semoga mendapat ridho dan barokah Alloh. Aamiin..

36 Comments

  1. Hanif Mahaldi 20/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  2. Mansyur Hasan 20/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  3. dedi 20/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  4. dafhy 20/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  5. galihsatria 20/10/2011
  6. Yunan 21/10/2011
  7. arifudin 22/10/2011
  8. bend 22/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  9. sawali tuhusetya 22/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  10. Ejawantah's Blog 23/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  11. Sukajiyah 23/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  12. Sriyono Semarang 23/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  13. jarwadi 23/10/2011
    • budiono 23/07/2013
  14. Pangkas Rambut Keputih 25/10/2011
    • agafrows... 29/09/2012
  15. sepatu kerja pria 25/10/2011
  16. la mendol 27/10/2011
  17. Pardicukup 27/10/2011
  18. ismail 28/10/2011
  19. ndutyke 10/11/2011
  20. Johan 01/02/2012
  21. Anang 03/10/2012
  22. anggayasha 26/07/2013

Leave a Reply