Kaltrofen Suppositoria, Obat Maag Anal Reaksi Lambat

Minggu 15 Mei 2011 lalu saya kembali terserang sakit maag. Jam 5 sore perut mulai terasa nyeri. Saya yakin itu bukan masuk angin, melainkan maag. Promag dan Mylanta yang saya minum antara jam 5 hingga 8 ternyata tidak mampu meredam rasa nyeri itu. Sudah berusaha tidur, namun ketika bangun pukul 23.30 nyeri itu sama sekali tidak berkurang dan badan saya penuh dengan keringat dingin.

Maka pukul 24.00 saya putuskan untuk ke Rumah Sakit Haji Surabaya. Apesnya dini hari itu di Instalasi Rawat Darurat RS Haji tidak ada dokter jaga. Yang jaga hanyalah Dokter Muda (DM) cowok dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (terlihat dari identitas di kostumnya). Satu lagi DM dari entah kampus mana, seorang cewek berjilbab. DM-DM itu hanya memeriksa dengan stetoskop dan bertanya ini itu yang menurut saya tidak penting karena sebelumnya sudah ditanyakan oleh mbak perawat.

Ketika saya tanya apa kira-kira penyakit yang saya derita ini, mereka malah ngeloyor pergi dan bertanya ke mas-mas dan mbak-mbak perawat yang duduk-duduk di meja jaga. Waduh! Mas dan mbak perawat yang ditanyai rupanya juga tidak bisa menjawab dan akhirnya mereka secara bersama-sama bertanya ke ibu perawat yang sedang menangani pasien lain.

Saya yakin ibu berkostum coklat itu bukan dokter karena mbak dan mas perawat itu tidak memanggilnya dengan panggilan “dok” (dokter), melainkan “buk” (ibu). Saya hanya bisa geleng-geleng!

Akhirnya saya diminta oleh salah seorang mas perawat untuk memasukkan obat melalui dubur!. Sebelumnya si mas perawat menawarkan diri untuk memasukkan obat itu ke lubang belakang saya, tapi saya memilih memasukkannya sendiri di toilet.

Obat itu bentuknya persis seperti peluru. Diameternya sekitar 15 mm. Saya diminta memasukkan ‘peluru’ itu langsung 2 butir. Dengan susah payah saya berhasil memasukkan kedua peluru itu. Namun saya bertahan cukup lama di dalam toilet, kuatir ‘peluru’ itu keluar lagi :d

Setelah keluar dari toilet saya kembali ke bilik perawatan UGD, kembali berbaring sambil merasakan nyeri di perut saya yang tak kunjung berkurang. Ibu perawat senior memberitahu saya bahwa obat itu akan meleleh dan berfungsi mengurangi rasa nyeri di perut saya.

Namun saya merasakan reaksi obat itu sangat lambat. Hampir 30 menit saya berbaring di UGD masih terasa nyeri. Berbeda ketika saya ditangani oleh dokter Kudi dulu, setelah disuntik lewat lengan, 15 menit kemudian nyerinya langsung hilang tuntas.

Hampir satu jam di UGD rasa nyeri itu mulai berkurang. Saya dipersilakan meninggalkan tempat. Lagi-lagi saya dibuat kecewa oleh mbak DM yang tidak bisa menjawab pertanyaan saya: “obat apa lagi yang harus saya konsumsi jika nyeri ini tidak kunjung hilang dalam 1 jam ke depan”. Si mbak DM malah terlihat kebingungan dan akan bertanya ke ibu perawat senior lagi. Daripada tambah kecewa saya langsung meninggalkannya, pulang!

Belakangan saya ketahui obat seperti peluru tadi namanya Kaltrofen. Obat pereda nyeri keluaran Kalbe Farma. Sebenarnya Kaltrofen ada beberapa jenis, ada yang berupa gel untuk diminum dan ada yang berupa cairan injeksi. Saya jadi tambah heran mengapa mereka memberikan obat yang dimasukkan melalui anal (suppositoria).

Dua jam setelah kaltfofen supp itu masuk dubur saya, barulah rasa nyeri di perut saya itu hilang 100%.

 

15 Comments

  1. aRuL 22/05/2011
  2. budiono 22/05/2011
  3. fauzansigma 22/05/2011
  4. budiono 22/05/2011
  5. choirul 22/05/2011
  6. sawali tuhusetya 23/05/2011
  7. Kamal Hayat 23/05/2011
  8. giewahyudi 25/05/2011
    • ferry 05/07/2012
      • hesti 07/04/2013
      • budiono 08/04/2013
      • budiono 08/04/2013
      • Retno Palupi Yunny 01/07/2016
  9. ailyna 20/02/2015
    • budiono 20/02/2015

Leave a Reply