Mbolang ke Jakarta

Terbang Bersama Garuda Citilink

Hari Senin (21/3) saya terbang pukul 10.55 menggunakan Garuda Citilink GA022. Ini adalah kali pertama saya naik Citilink. Sebelum-sebelumnya naik Garuda Indonesia. Sebabnya, kunjungan ke Jakarta kali ini terbilang mendadak dan saya cek ke website Garuda Indonesia harga tiket sekali jalan untuk penerbangan dua hari lagi sudah di atas 1,5 juta semua. Sedangkan naik Citilink ini cukup 800 ribu sudah pergi dan pulang. Lebih hemat πŸ˜‰

Awalnya saya menduga di dalam pesawat akan mendapatkan konsumsi seperti ketika naik Garuda Indonesia. Eh ternyata tidak. Padahal paginya saya belum sempat sarapan karena masih ada kuliah sampai jam 09.30. Selesai kuliah langsung ngebut menuju bandara dan begitu masuk ke ruang tunggu langsung diminta naik pesawat. Alhasil selama perjalanan saya menahan rasa lapar yang amat sangat. Padahal saya baru saja kena maag dan dokter mewanti-wanti supaya saya tidak telat makan lagi.

Oia, saya terkesan dengan penampilan pramugari citilink yang sangat segar dan chic. Mereka mengenakan kostum berupa kaos polo agak ketat warna merah maroon dipadu dengan celana kain agak ketat warna krem, panjangnya selutut agak naik sedikit. Ikat pinggang berupa pita putih membuat penampilan semakin manis. Semuanya masih muda dan melayani penumpang dengan ramah dan senyum yang tulus. Tak heran pada saat mereka memperagakan petunjuk keselamatan penerbangan, banyak penumpang memperhatikan dari awal hingga akhir. Biasanya pada cuek, khan? Xixi..

Berburu Solaria di Terminal 1C

TibaΒ di Soekarno-Hatta Jakarta pukul 12.10 di terminal 1C. Saya sempatkan sholat dhuhur dulu di mushola dalam. Selesai sholat saya langsung berbegas keluar untuk mencari sarapan. Seingat saya, di dekat pintu keluar terminal kedatangan Garuda Indonesia ada Solaria. Tapi setelah berjalan mengelilingi terminal C hingga A, gak ada! Akhirnya saya putuskan kembali ke terminal C dan makan di Red Corner.

Selesai makan, saya buka laptop dan mengerjakan beberapa pekerjaan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Saya memang sengaja berlama-lama di situ sambil menunggu kawan-kawan dari Makassar yang rencananya mendarat pukul 16.30. Masih ada waktu 30 menit, saya sempatkan ke mushola yang ada di dalam Red Corner untuk sholat ashar.

Lha dalah, di dalam mushola itu saya ketemu orang memakai kostum Solaria. Saya kaget, “lho, kok ada Solaria? tadi kan saya sudah thowaf dari terminal C ke A selama 2 putaran dan gak nemu Solaria, kok ini ada karyawan Solaria?!” tanya saya dalam hati. Daripada penasaran akhirnya saya tanya mas itu dan saya mendapatkan jawaban ternyata Solaria berada di parkiran mobil! Wakakakaka…

Pelajaran Hidup dari Pak Giman

Setelah 3 orang kawan dari Makassar plus 1 orang kawan dari Tulungagung mendarat, kami langsung menuju ke Hotel Atlet Century yang ada di kawasan Senayan. Karena berlima, kami tidak jadi naik Blue Bird, tapi naik ‘taksi gelap’ berjenis Daihatsu Xenia. Sopirnya menawarkan harga 150 ribu dan langsung kami sepakati. Saya duduk di kursi depan, sementara kawan-kawan saya duduk di bangku tengah dan belakang.

Selama perjalanan saya ngobrol dengan sopir yang ternyata berasal dari Jawa Tengah. Namanya Pak Giman. Dia sudah 25 tahun merantau ke Jakarta. Awalnya beliau ini sopir taksi argo. Setelah 20 tahun beliau memutuskan untuk merintis usaha taksi sendiri. Sekarang beliau sudah punya 5 armada taksi argo dengan mobil Toyota Vios bekas taksi Blue Bird. Mobil-mobil itu dibelinya secara mencicil dan semuanya sudah lunas. Lalu Xenia yang disopirinya sendiri itu masih nyicil baru dapat 4 bulan.

Pak Giman juga bercerita tentang anak-anaknya. Yang dua orang sudah sarjana, sudah menikah dan sudah mapan. Yang satu lagi masih kuliah. Adapun usaha taksi ini dijalankan sebagai bekal pensiun. Pak Giman mengaku sangat bersyukur karena bisa hidup layak. Banyak teman-temannya sopir taksi yang gagal dan sampai sekarang masih menjadi sopir taksi dan belum mampu beli rumah sendiri. “Pada saat cari duit masih gampang dulu mereka suka mabuk-mabukan dan main perempuan mas, tanpa sadar semakin tua tetapi masih tetap tinggal di kontrakan dan masih tetap menjadi sopir taksi ikut orang lain,” tutur Pak Giman sambil menerawang seolah mengingat masa lalu.

Peluncuran Program Climate4Classrooms

Nah, ini adalah agenda resmi saya di Jakarta. Saya diundang oleh British Council Indonesia – BCI – dalam malam peluncuran program climate for classrooms. Acaranya bertempat di Ballroom Hotel Atlet Century. Kami tiba di lokasi pukul 18.30 dan karena sudah telat, kami tidak jadi mandi dulu, tapi langsung masuk ke ballroom dan menyantap hidangan makan malam.

Di sana saya bertemu dengan kawan-kawan Climate Champion yang lain. Jadinya selama acara kami malah asik ngobrol sendiri. Hanya sesekali melirik ke arah panggung dan mencatat beberapa key speech yang disampaikan oleh Mr.Keith Davies dan perwakilan Menteri Lingkungan Hidup. Catatan tersebut langsung saya kirimkan ke Redaksi Suara Kawan dan langsung diterbitkan.

Selesai acara, kawan-kawan yang rumahnya di Jakarta langsung pulang. Sedangkan saya baru akan pulang 2 hari lagi. Rencananya saya akan menginap di Atlet Century, tepi ternyata sudah fully booked sampai 3 hari ke depan. Omaigos! Akhirnya saya menginap di Wisma PKBI di dekat Blok M.

bersambung… simak perbolangan saya ke smesco, gedung cyber, blok M dan naik bajaj bertaruh nyawa pada postingan selanjutnya πŸ˜‰

18 Comments

  1. galihsatria 28/03/2011
  2. ndutyke 28/03/2011
  3. sibair 28/03/2011
  4. wafie 28/03/2011
  5. giewahyudi 28/03/2011
  6. Jauhari 28/03/2011
  7. Abu Umar 29/03/2011
  8. aRuL 30/03/2011
  9. kamaropini 30/03/2011
  10. Rusa 31/03/2011
  11. Edi Psw 04/04/2011
  12. IklanKeren 04/04/2011
  13. Togar Silaban 06/04/2011
  14. ndop 13/04/2011
  15. aLe 14/04/2011
  16. ronie 21/04/2011
  17. giewahyudi 04/05/2011
  18. Penggila Ubuntu 08/05/2011

Leave a Reply