Dua Malam di Mataram

Tanggal 27 hingga 29 Juni adalah jadwal kunjungan ke Pulau Lombok. Ada sebuah misi rahasia yang sangat urgent untuk segera diselesaikan. Misi telah berhasil dijalankan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang kami harapkan. Meskipun sebelum berangkat menjalankan misi tersebut kami sudah faham betul peluangnya. Inilah hidup, penuh degan pilihan yang relatif terhadap pilihan lain.

Ini adalah tentang cinta, tetapi saya tidak akan menuliskan di sini detailnya. Bukan untuk konsumsi publik! 😉

Malam Pertama

Penerbangan dari Juanda Surabaya menuju Selaparang Mataram ditempuh selama 50 menit dengan pesawat Lion Air. Berangkat pukul 18.30 WIB dan tiba pukul 20.20 WIT. Sesampai di Mataram saya langsung menuju ke Hotel Bidari di Jl.Bangau. Karena sudah capek dan ngantuk saya langsung mandi air hangat lalu tidur. Zzzzz…..

Paginya saya bangun waktu Subuh. Penasaran dengan suasana pagi kota Mataram saya keluar kamar lalu jalan-jalan kaki menyusuri Cakranegara. Harapan saya untuk bertemu dengan penjual sarapan khas Mataram ternyata tidak kesampaian.  Akhirnya saya kembali untuk sarapan di hotel.
hotel bidari lombok mataram

Tarif menginap di hotel ini cukup murah, 225 rb per malam. Kamarnya cukup luas, dilengkapi dengan TV kabel, AC dan kamar mandi dengan shower air hangat. Lingkungannya bersih, pelayannya ramah. Hanya beberapa menit dari bandara dengan tarif taksi 29 rb. Ini adalah tarif sesuai zona, seperti yang diterapkan oleh taksi Juanda.

Siang hari itu saya habiskan dengan tidur di kamar hingga tidak terasa sudah masuk waktu Maghrib.

Malam Kedua

Sekitar jam 6 setelah sholat Maghrib saya keluar untuk jalan-jalan di sekitar Cakranegara. Tujuan utama adalah mencari makan malam khas Mataram. Ternyata susah juga, warung-warung kebanyakan menawarkan makanan yang sudah sering saya temui di Surabaya: Soto Lamongan, Nasi Padang, Wedang Ronde, Pecel Madiun, Bakso, dan sejenisnya.

Setelah jalan ke sana ke mari akhirnya nemu warung dengan menu plecing kangkung. Itulah makanan yang direkomendasikan oleh Pak Momok melalui facebook saya. Saya pesan plecing kangkung dan ikan bakar taliwang. Ternyata rasa plecing kangkung itu lumayan juga. Begitu juga dengan nila bakar taliwany, cukup unik rasanya. Lalapannya terong mentah dipotong kubus. Kenyang!

Habis makan saya beli pisang goreng krisp. Lalu jalan kaki ke Mataram Mall yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat saya makan. Mencari ATM untuk ambil uang. Maklum, isi dompet saya tinggal 300 rb dan itu membuat saya tidak tenang. Ukuran mall itu kalau di Surabaya mungkin hampir sama dengan Jembatan Merah Plasa. Memanjang ke belakang.

Habis ambil uang saya segera kembali ke hotel karena akan ada tamu. Inilah misi utama saya ke Mataram. Ceritanya biar menjadi catatan di dalam hati saja 😉

Pantai Senggigi

Siang hari kedua kami sempatkan mengunjungi Pantai Senggigi yang sangat terkenal itu. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk menuju ke lokasi dengan taksi Blue Bird. Ongkosnya 48 rb sesuai dengan argometer. Sepanjang perjalanan saya banyak bertanya ke sopir taksi tentang objek wisata lain di Pulau Lombok.

Setiba di Senggigi hal pertama yang kami lakukan adalah berburu kuliner. Sate ayam dengan lontong bulayak yang unik dan minumnya es degan tanpa gula, nikmat sekali, apalagi sambil menikmati pemandangan pantai yang sangat bersih, jernih dan indah. Ombaknya cukup tenang.

senggigi beach indonesia

Ketika makan sate bulayak itu kami didatangi orang yang menawarkan tour ke Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Katanya di sana kami bisa main snorkling, menikmati pemandangan yang indah di bawah permukaan air laut. Tetapi sayangnya untuk menuju ke 3 pulau tersebut katanya memakan waktu setidaknya 12 jam, sedangkan pesawat kami terbang pukul 5 sore. Tidak memungkinkan untuk ke Gili-gilian itu :d

Habis makan sate kami ganti baju lalu menceburkan diri ke pantai, bermain kano dan berendam di air laut. Wah seru sekali, rasanya ingin berlama-lama di situ. Lain kali kalau ada banyak waktu ingin kembali lagi ke sana lebih lama lagi 😉

Tepat pukul 3 kami bertolak ke bandara. Begitu check in petugas memberitahu bahwa pesawat akan delay 1,5 jam! Oh Lion, kok cocok dengan poster iklan rokok yang ada di bandara itu: selama-lamanya delay akhirnya pasti akan terbang juga!

Pukul 6.30 malam kami naik ke dalam pesawat. Ada kejadian lucu yaitu ketika petugas bandara berbasa-basi menawarkan menunggu 20 menit karena akan dipesankan makanan. Penumpang yang kadung kecewa menanggapi dengan berbagai cara. Oia, selain kecewa karena delay, penumpang juga kecewa karena duduknya boleh sembarangan tidak mengikuti nomor yang tertera di boarding pass!

Ah seburuk-buruknya pelayanan Lion tetapi saya tetap mengucapkan terimakasih karena telah mengantarkan semua penumpang dengan selamat hingga Surabaya 😉

11 Comments

  1. ericova 01/07/2010
  2. galihsatria 02/07/2010
  3. addiehf 02/07/2010
  4. Gempur 03/07/2010
  5. ciwir 05/07/2010
  6. mbah sangkil 05/07/2010
  7. Putu 06/07/2010
  8. Jidat 13/07/2010
  9. Anas 14/07/2010
  10. Jauhari 03/08/2010
  11. ndop 17/11/2010

Leave a Reply