Berdiri di Bahu Raksasa

Standing on the shoulders of giants

Hari ini penjelasan Bu Maria membuat saya merinding. Dalam kuliah Business Research pertemuan ke-3 tadi Doktor Filosofi (Ph.D) lulusan Australia ini mendiskusikan tentang kualifikasi sebuah research berdasarkan dimensi-dimensi yang ada.

Saya sangat suka dengan kelas yang dibawakan oleh Bu Maria ini: selalu dinamis, aktif, kreatif, antusias dan memancing peserta untuk berfikir multidimensi dengan memberikan berbagai ilustrasi untuk mendapatkan esensi dari sebuah masalah.

Meski sebelumnya saya kuliah S1 juga di TI ITS, tapi ini adalah pertama kali saya mengikuti kelas Bu Maria. Maklum saja dulu beliau masih berada di Australia untuk menyelesaikan risetnya. Beliau memang terkenal sebagai seorang peneliti yang produktif dan sudah melakukan banyak publikasi, baik melalui jurnal internasional maupun buku.

Kembali ke masalah merinding tadi. Waktu itu kelas sedang mendiskusikan apa saja dimensi sebuah riset. Semua sepakat dengan apa yang ada di bukunya Husey & Husey (1997) bahwa:

  1. research is a approach of enquiry and investigation (yang dalam pelaksanaannya seorang periset harus memiliki etika dan attitude yang baik)
  2. it is systematic and methodical
  3. research increase knowledge (novelty)

Ketiga hal di atas merupakan dimensi horizontal. Lalu ada lagi satu dimensi vertikal, yaitu LEVEL RISET: dilakukan oleh siapa dan untuk siapa. Riset mahasiswa S3 tentu beda dengan riset anak S2, dan seterusnya. Audiennya level lokal, nasional atau internasional. Semua jelas berbeda requirement-nya.

standing on the shoulder of giants<

Terkait dengan etika dan attitude, Bu Maria menyebutkan sebuah ungkapan yang sangat terkenal di dalam dunia riset, yaitu “standing on the shoulders of giants” atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa artinya “berdiri di bahu raksasa”. Ungkapan ini bisa ditemui di mesin pencari Google Scholar, berada di bagian bawah kotak pencarian.

Apa artinya?

Bahwa sebuah riset itu selalu dibangun atas riset-riset yang lain. Tiap riset memberikan kontribusi terhadap riset yang kita lakukan. Dan sebagai periset yang memiliki etika dan attitude yang baik maka sudah seharusnya kita meng-acknowledge (mengakui, menghargai) periset yang kita jadikan dasar pijakan. Acknowledgement itu teknisnya berupa pencantuman judul laporan dan nama periset tersebut di dalam laporan riset kita. Contohnya bisa dilihat di Wikipedia: standing on the shoulders of giants.

Tidak ada ceritanya sebuah riset itu terjadi secara tiba-tiba dan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Semua pasti menggunakan dasar pijakan riset-riset sebelumnya. Riset-riset tersebut bisa diibaratkan dengan satu butir pasir. Jika para periset saling tidak mengakui kontribusi orang lain maka ibaratnya kita sedang membangun padang pasir yang tak berbentuk. Namun jika satu sama lain saling menghargai kontribusi orang lain maka ibaratnya kita sedang membangun piramida yang berbentuk.

Seorang peneliti yang ingin membangun karir akademik yang baik multak memegang teguh prinsip tersebut. Apa jadinya jika kita tidak meng-acknowledge periset sebelum kita? Bersiaplah mendapatkan cap sebagai pelaku PLAGIARISM dan itu akan menghancurkan karir akademik maupun non akademik Anda sendiri!

———–
Gambar: Standing on the Shoulder of Giants by Leisure Guy

18 Comments

  1. suryaden 16/02/2010
  2. budiono 16/02/2010
  3. aRuL 16/02/2010
  4. Taufik Nur Maks'ud 16/02/2010
  5. Muji 16/02/2010
  6. bend 17/02/2010
  7. darahbiroe 17/02/2010
  8. grubik 17/02/2010
  9. achoey 17/02/2010
  10. antokoe 17/02/2010
  11. Anas 18/02/2010
  12. saifuna 18/02/2010
  13. hanif IM 18/02/2010
  14. rio seto 18/02/2010
  15. Asop 01/03/2010
  16. bukik 14/06/2010

Leave a Reply