<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Talkshow SS: Partisipasi Publik dalam Pemilukada Surabaya</title>
	<atom:link href="http://budiono.net/2010/05/22/talkshow-ss-partisipasi-publik-dalam-pemilukada-surabaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiono.net/2010/05/22/talkshow-ss-partisipasi-publik-dalam-pemilukada-surabaya/</link>
	<description>standing on the shoulder of giants</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 02:29:15 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Ruli Perdana</title>
		<link>http://budiono.net/2010/05/22/talkshow-ss-partisipasi-publik-dalam-pemilukada-surabaya/#comment-726</link>
		<dc:creator>Ruli Perdana</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 20:14:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budiono.net/?p=166#comment-726</guid>
		<description>Bro, selain dr faktor pemilih, faktor kandidiat juga berpengaruh...
mindset mereka masih konservatif, melihat kuantitas konstituen bukannya kualitas.
secara kuantitas, konstituen kita masih dari grass root, bukan critical. Maintain-nya pun ya a la grass root...mobilisasi massa d lapangan, hiburan musik, datangkan artis n bagi2 sembako. Kalo katanya Hirarki kebutuhan Maslow, Basic need-nya yang dipenuhi, jadi terkesan jadi &quot;pesta rakyat&quot;. Jaaauuuuh....dari yg namanya &quot;pesta demokrasi&quot;
Sdangkan kalangan critical, mereka butuh pemenuhan self-esteem need, diajak diskusi, pembuatan kontrak politik n menumbuhkan belongingness. Seperti kampanye Obama saat pencalonan diri jadi presiden AS by facebook secara personal dari BB n mengelola pendukung sukarelawan (yg bener2 suka Obama as a personal dan rela gk dibayar).

Lalu kalo pendekatan lewat grass root seumpama kalo jualan, pake sistem beli-putus, makanya rentan money politic...gak peduli kenal sama kandidat, &quot;pokoke nyoblos sing mbayari paling gede.&quot; Kandidat gak perlu nunjukin kapabilitasnya n kontribusinya sama pemilih. Berlawanan sama pendekatan golongan critical n bisnis yg lebih suka long-term commitment / relationship.

Padahal, jika diamati lebih jauh, ada keuntungan besar yg dapat diambil para kandidiat saat dia dapat maintain golongan critical n bisnis. Secara status sosial ekonomi, tentunya mreka punya &quot;power&quot; untuk menggerakkan grass root mengikuti mereka selaku atasan atw juragan. Sehingga golongan ini akan menjadi c0-marketer kampanye bagi para kandidat, biaya lebih murah tp butuh integritas tinggi untuk meyakinkan mereka dalam waktu lama. kalo om rhenald kasali bilang, intangible aset.
hehehe....maap gan kalo bahasanya gk teratur n trstruktur dngn baik, cuman brusaha blajar analisa yg sdikit menghibur....
mohon d rate bintang lima, kalo yng udah ISO, mohon ijo2, insyaallah bukan repost, jd jngan ditimpuk bata ya gan....
*kakean ngaskus iki bro...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bro, selain dr faktor pemilih, faktor kandidiat juga berpengaruh&#8230;<br />
mindset mereka masih konservatif, melihat kuantitas konstituen bukannya kualitas.<br />
secara kuantitas, konstituen kita masih dari grass root, bukan critical. Maintain-nya pun ya a la grass root&#8230;mobilisasi massa d lapangan, hiburan musik, datangkan artis n bagi2 sembako. Kalo katanya Hirarki kebutuhan Maslow, Basic need-nya yang dipenuhi, jadi terkesan jadi &#8220;pesta rakyat&#8221;. Jaaauuuuh&#8230;.dari yg namanya &#8220;pesta demokrasi&#8221;<br />
Sdangkan kalangan critical, mereka butuh pemenuhan self-esteem need, diajak diskusi, pembuatan kontrak politik n menumbuhkan belongingness. Seperti kampanye Obama saat pencalonan diri jadi presiden AS by facebook secara personal dari BB n mengelola pendukung sukarelawan (yg bener2 suka Obama as a personal dan rela gk dibayar).</p>
<p>Lalu kalo pendekatan lewat grass root seumpama kalo jualan, pake sistem beli-putus, makanya rentan money politic&#8230;gak peduli kenal sama kandidat, &#8220;pokoke nyoblos sing mbayari paling gede.&#8221; Kandidat gak perlu nunjukin kapabilitasnya n kontribusinya sama pemilih. Berlawanan sama pendekatan golongan critical n bisnis yg lebih suka long-term commitment / relationship.</p>
<p>Padahal, jika diamati lebih jauh, ada keuntungan besar yg dapat diambil para kandidiat saat dia dapat maintain golongan critical n bisnis. Secara status sosial ekonomi, tentunya mreka punya &#8220;power&#8221; untuk menggerakkan grass root mengikuti mereka selaku atasan atw juragan. Sehingga golongan ini akan menjadi c0-marketer kampanye bagi para kandidat, biaya lebih murah tp butuh integritas tinggi untuk meyakinkan mereka dalam waktu lama. kalo om rhenald kasali bilang, intangible aset.<br />
hehehe&#8230;.maap gan kalo bahasanya gk teratur n trstruktur dngn baik, cuman brusaha blajar analisa yg sdikit menghibur&#8230;.<br />
mohon d rate bintang lima, kalo yng udah ISO, mohon ijo2, insyaallah bukan repost, jd jngan ditimpuk bata ya gan&#8230;.<br />
*kakean ngaskus iki bro&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Amy</title>
		<link>http://budiono.net/2010/05/22/talkshow-ss-partisipasi-publik-dalam-pemilukada-surabaya/#comment-671</link>
		<dc:creator>Amy</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 15:55:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budiono.net/?p=166#comment-671</guid>
		<description>banyak faktor yang menyebabkan tingkat partisipasi kaum muda dalam pilkada begitu rendah. fenomena itu hampir terjadi di berbagai daerah, mas dion. bisa jadi, selain sudah apatis dg perilaku politik para pejabat yang selama ini muncul ke permukaan, juga banyaknya calon pemilih yang ndak mengenal para calon dengan jelas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>banyak faktor yang menyebabkan tingkat partisipasi kaum muda dalam pilkada begitu rendah. fenomena itu hampir terjadi di berbagai daerah, mas dion. bisa jadi, selain sudah apatis dg perilaku politik para pejabat yang selama ini muncul ke permukaan, juga banyaknya calon pemilih yang ndak mengenal para calon dengan jelas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arafi</title>
		<link>http://budiono.net/2010/05/22/talkshow-ss-partisipasi-publik-dalam-pemilukada-surabaya/#comment-656</link>
		<dc:creator>arafi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 13:00:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budiono.net/?p=166#comment-656</guid>
		<description>masalahnya,,kaum muda dan terdidik sudah muak ma jani2 manis calon wakil rakyat,,jadi mereka golput</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>masalahnya,,kaum muda dan terdidik sudah muak ma jani2 manis calon wakil rakyat,,jadi mereka golput</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rubiyanto</title>
		<link>http://budiono.net/2010/05/22/talkshow-ss-partisipasi-publik-dalam-pemilukada-surabaya/#comment-654</link>
		<dc:creator>Rubiyanto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 04:02:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budiono.net/?p=166#comment-654</guid>
		<description>ya ya, anak muda sekarang memang agak susah kalau di suruh nyoblos ,,,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya ya, anak muda sekarang memang agak susah kalau di suruh nyoblos ,,,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

